gimana nih kabarnya?lama nggak ketemu,semoga baik-baik aja ya
kali ini saya akan berbagi ilmu tentang "Keanekaragaman Hayati". Keanekaragaman hayati sangat banyak kita temukan di sekitar kita. Untuk iu saya akan menjelaskannya
1. Keanekaragaman
Hayati Tingkat Gen
Keanekaragaman tingkat gen disebut pula
keanekaragaman genotip, yaitu tingkat variasi pada organisme sejenis sebagai
akibat interaksi antar gena-gena di dalam genotipnya dengan lingkungan sehingga
memunculkan fenomena yang berbeda sekalipun gena-genanya sama. Hal ini terjadi
sebagai akibat sifat gena-gena ada yang dominan dan ada yang resesif. Itulah
sebabnya, sekalipun gena-gena di dalam genotipnya sama dalam satu keluarga
terdapat anggota keluarga yang memiliki ciri atau sifat penampilan yang berbeda
dengan anggota lainnya dalam keluarga itu.
Penampakan sifat genotif berinteraksi dengan lingkungannya disebut
fenotif. Dengan begitu, akibat adanya sifat dominansi dan resesif gena-gena
dalam genotip induk organisme itu, suatu induk
akan menghasilkan fenotip yang berbeda pada keturunannya. Keanekaragaman
genotip disebut juga plasma nutfah.
Individu yang masih alami atau belum
termutasi oleh manusia, memiliki kekayaan plasma nutfah yang berharga, karena
gena-genanya masih bisa direkayasa lebih lanjut. Keanekaragaman hayati dalam
bentuk hutan seisinya merupakan sumber plasma nutfah untuk kesejahteraan hidup
manusia di masa kini dan masa datang, sehingga keberadaan hutan di tiap wilayah
semestinya dipelihara dan dilestarikan . Keanekaragaman tingkat gen dapat kita
pelajari pada pola-pola bentuk daun pada tumbuhan. Pada tumbuhan Dahlia
memiliki bentuk daun yang berbeda-beda antara daun semasa kecambah, semasa
muda, dan semasa dewasanya atau semasa akan menghasilkan bunga. Pada
bagian-bagian bunga, sekalipun memiliki genotip sama pada kelopak, mahkota,
benang sari, dan putiknya, kesemuanya memiliki bentuk yang berbeda-beda. Demikian pula bentuk daun Ranunculus aquatalis, Salvinia, dan Myriophyllum
adalah berbeda antara daun yang berada di atas permukaan air dengan daun yang
berada di bawah permukaan air. Daun yang berada di bawah permukaan air memiliki
bentuk serupa akar, tetapi daun yang
berada di atas permukaan air memiliki bentuk yang lebih lebar. Hal ini berarti
faktor lingkungan mempengaruhi
penampakan sifat genotip yang sama pada suatu bagian organisme sejenis di tempat tertentu.
Pada organisme bersel satu seperti bakteri (kokus, basil, vibrio, dan
spirilum) mengandung kurang lebih 1.000 gen, apalagi organisme multiseluler
memiliki lebih banyak lagi variasi gena-genanya. Satu gena merupakan satu
penggal benang DNA dalam ukuran tertentu, dan benang DNA yang amat panjang
dapat dikemas menjadi butir-butir kromatin, lalu menjadi nukleosom dan akhirnya
terbentuk benang kromosom. Sel semasa interfase, kromosom tidak dapat dilihat
dengan mikroskop biasa dan hanya bisa dilihat dengan mikroskop elektron, karena
terurai menjadi benang-benang DNA. Dewasa ini pemanfaatan DNA mikroba untuk
dicangkokkan kepada tanaman budidaya agar menghasilkan sesuatu zat yang
meningkatkan mutu gizi dari produksi tanaman melalui rekayasa genetika adalah
banyak dilakukan untuk menciptakan bibit-bibit unggul. Berdasarkan
keanekaragaman hayati tingkat gen ini, Indonesia memiliki
bank gen atau sumber plasma nutfah yang sangat banyak untuk
kesejahteraan hidup manusia.
2. Keanekaragaman Tingkat Jenis
Variasi pada keanekaragaman tingkat
gen adalah bukan disebabkan oleh keanekaragaman gen, melainkan perbedaan
pengaruh interaksi antar gena-gena pada genotip dengan lingkungan yang berbeda.
Tetapi keanekaragamantingkat jenis merupakan variasi yang terjadi pada tingkat
individu sebagai akibat pengaruh keanekaragamangena-genayang membentuk genotip
individu-individu itu.
Keanekaragaman tingkat jenis, contohnya
variasi pada jenis kelapa (Cocos nucifera), yaitu ada kelapa gading, kelapa
kopyor, dan kelapa hijau adalah berbeda varietasnya, tetapi sama jenisnya. Individu yang satu dengan individu
yang lainnya memiliki persamaan dan perbedaan. Makin banyak persamaannya atau
makin sedikit perbedaannya, makin dekat kekerabatannya, dan sebaliknya. Untuk
melihat jauh dekatnya kekerabatan suatu
organisme satu dengan organisme lainnya, para hali membuat sistem pengelompokan-pengelompokan
atau klasifikasi yang disebut tingkatan
takson. Ilmu yang khusus mempelajari pengelompokan atau klasifikasi organisme ini disebut Taksonomi.


Gambar 2. Keanekaragaman jenis pada hewan (a) harimau, (b)
singa, (c) kucing dan (d) citah.
3. Keanekaragaman Tingkat Ekosistem
Istilah
Ekosistem berasal dari bahasa Greek, yaitu Ecosistem (oikos= rumah tangga,
sistema= keseluruhan bagian-bagian sebagai satu kesatuan). Ekosistem berarti
satu kesatuan yang ada dalam rumah tangganya, yaitu satu kesatuan antara semua
makhluk hidup dengan lingkungan abiotiknya. Seringkali faktor abiotik menjadi
faktor pembatas bagi pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup. Faktor
pembatas dapat berupa perbedaan iklim, bentang alam yang luas, keadaan air
tanah dan mineral yang mempengaruhi pertumbuhan organisme. Oleh karena setiap jenis makhluk hidup
memiliki daya toleransi, adaptasi, dan suksesi yang berbeda-beda terhadap
lingkungan yang berbeda-beda, menyebabkan di dunia terjadi keanekaragaman
ekosistem maupun bioma. Pada Gambar 1.2 ditunjukkan pengaruh ketinggian tempat
dan jauh dekatnya ke kutub (garis lintang) menyebabkan adanya perbedaan dan persamaan sebaran vegetasinya. Puncak
gunung bersalju dan daerah kutub memiliki jenis vegetasi yang sama, juga di
daerah ugahari dan ketinggian antara 1.000 - 1.500 m di atas permukaan laut
ditemukan hutan pinus (berdaun jarum) yang subur, dan seterusnya.
Perbedaan letak geografis menyebabkan perbedaan iklim.
Perbedaan iklim menyebabkan terjadinya perbedaan temperature, curah hujan,
intensitas cahaya matahari, dan lamanya penyinaran. Keadaan ini akan
berpengaruh terhadap jenis-jenis flora (tumbuhan) dan fauna (hewan) yang
menempati suatu daerah.
Di daerah dingin terdapat bioma Tundra. Di tempat ini tidak
ada pohon, yang tumbuh hanya jenis lumut. Hewan yang dapat hidup, antara lain
rusa kutub dan beruang kutub. Di daerah beriklim sedang terdpat bioma Taiga.
Jenis tumbuhan yang paling sesuai untuk daerah ini adalah tumbuhan conifer, dan
fauna/hewannya antara lain anjing hutan, dan rusa kutub. Pada iklim tropis
terdapat hutan hujan tropis. Hutan hujan tropis memiliki flora (tumbuhan) dan
fauna (hewan) yang sangat kaya dan beraneka ragam. Keanekaragaman jenis-jenis
flora dan fauna yang menempati suatu daerah akan membentuk ekosistem yang
berbeda. Maka terbentuklah keanekaragaman tingkat ekosistem. Totalitas variasi
gen, jenis dan ekosistem menunjukkan terdapat pelbagai variasi bentuk,
penampakan, frekwensi, ukuran dan sifat lainnya pada tingkat yang berbeda-beda
merupakan keanekaragaman hayati.
Akibat perputaran bola dunia pada
porosnya menyebabkan pembagian iklim, siang dan malam, arah angin, dan kondisi
air di tiap bagian dunia adalah berbeda-beda. Iklim adalah menunjukkan pukul rata tentang keadaan
suhu, sinar matahari, cuaca, curah hujan, tekanan udara dan kelembaban udara di
suatu daerah. Pengaruh iklim terhadap bentang alam menyebabkan terbentuknya
berbagai Bioma seperti: Gurun, Kutub, Tundra, Savana, Stepa, Hutan Berdaun
Jarum (Pinus), Hutan Tropis, dan Hutan
Berdaun Gugur. Kondisi seperti itu berdampak ada daerah yang berpenghuni dan
daerah tidak berpenghuni, baik dihuni oleh jenis tumbuhan, hewan maupun
manusia. Ekosistem hutan merupakan habitat hewan-hewan liar, sehingga rusaknya
hutan berakibat terganggunya kehidupan hewan-hewan tersebut, bahkan mungkin
kehilangan habitat mereka. Kehidupan hewan-hewan yang tidak sesuai dengan
habitatnya dapat berakibat semakin merana, bahkan mungkin menyebabkan kematian
dan punahnya suatu hewan. Ekosistem hutan memiliki fungsi ekologis bagi
kehidupan hewan, yaitu untuk berlangsungnya rantai makanan dan jaring-jaring
kehidupan bagi mereka, serta menjamin berlangsungnya daur ulang materi dan
aliran energi bagi kehidupan di bumi. Dengan demikian akibat rusaknya berbagai
ekosistem menyebabkan punahnya beberapa jenis spesies. Sekali jenis makhluk
hidup itu punah, jangan harap ia dapat muncul kembali di dunia ini. Hutan yang
berfungsi untuk melindungi kehidupan hewan-hewan disebut Hutan Suaka Margasatwa. Di sinilah pentingnya
memelihara kelestian suatu ekosistem dan adanya distribusi tumbuhan dan hewan
yang berbeda-beda pada setiap jenis Ekosistem maupun Bioma. Selain itu, berbagi
jenis hutan memiliki fungsi orologis, yaitu mencegah terjadinya erosi permukaan
tanah akibat hujan mau mencegah terjadinya longsor dan bahaya banjir.
Daun-daunan tumbuhan pada hutan menahan jatuhnya air hujan secara
perlahan-lahan sehingga dapat meresap ke dalam tanah. Air hujan yang meresap
ini ditahan oleh akar-akar tumbuhan sebagai reservoir air tanah, sumber mata
air untuk sungai-sungai dan laut. Akibat pemanasan sinar matahari, air laut
menguap membentuk awan di atmosfer, kemudian terbawa angin dan tertahan di
pegunungan tinggi, kemudian terjadi kondensasi membentuk mendung yang tebal,
dan akhirnya jatuh lagi sebagai air hujan. Dengan demikian, hutan memiliki
fungsi dalam daur ulang air di alam (hidrologis). Air yang ke luar dari mata
air bersifat bersih dan steril, sehingga baik digunakan sebagai sumber air
minum yang sehat. Demikian pula, ekosistem hutan menampung daun-daunan tumbuhan
yang gugur dan sumber humus yang akan menyuburkan tanah. Hutan yang berfungsi
menjaga kelestarian untuk berlangsungnya proses-proses alami dan seisi hutan
tersebut disebut Hutan Lindung atau Cagar Alam.
Hutan berupa Cagar Alam dapat membentuk iklim local dan iklim mikro
bagi tumbuhan dan hewan yang hidup di
bawah kanopi (naungan daun) hutan itu.
Bagaimanakah kaitannya antara berbagai jenis
bioma yang mengandung tumbuhan dalam jumlah banyak tersebut dengan isu-isu
global masalah lingkungan hidup lainnya? Tumbuhan hijau dalam jumlah banyak dan
bentuk apapun memiliki fungsi/peranan yang penting dalam penanggulangan masalah
lingkungan hidup. Hutan dipandang sebagai paru-paru dunia yang berfungsi
menyerap gas-gas beracun dan menghasilkan gas yang berguna untuk udara
pernapasan setiap makhluk hidup.
Manfaat
Keanekaragaman Hayati
1.
Sebagai sumber
pangan, perumahan, dan kesehatan
2. Sebagai sumber pendapatan/devisa
3. Manfaat ekologi
4. Manfaat keilmuan
5. Manfaat keindahan
Beberapa jenis tumbuhan telah diketahui
memiliki manfaat dapat menyerap berbagai gas beracun (Ir. Nancy Martasuta dalam
Majalah Trubus No.363, Edisi Februari 2000 – Th. XXXI), seperti tumbuhan:
- Spatifilum
(Spathiphyllum clevelandii) mampu menyerap racun (alkohol, aseton, trikloro,
dan formaldehid) dalam jumlah banyak. -
Gerbera (Gerbera jamesonii) mampu menyerap gas beracun apapun dan
menghasilklan uap air untuk kesejukan udara.
- Hanjuang
(Dracaena fragans Massangeana) mampu menyerap racun formaldehid dan gas racun
lainnya dalam jumlah banyak.
- Blanceng (Dieffencahia spp.) mampu menyerap racun
sedang-tinggi dari segala jenis gas beracun.
- Maranta
(Marantha leuconeura) memiliki kemampuan menyerap gas racun rendah-sedang dan
menghasilkan kelembapan udara dengan baik.
- Palem kuning
(Chrysalidocarpus lutescens) memiliki kemampuan menyerap gas beracun paling
banyak jenis dan volumenya.
- Lili paris
(Chlorophytum comusum) mampu menyerap racun sedang-tinggi, sehingga dalam
bentuk rumpun untuk penghias taman sangat berguna untuk
menyerap gas beracun dalam jumlah banyak.
Dari contoh-contoh tanaman tersebut, jelaslah berbagai
jenis tumbuhan memiliki fungsi ganda, baik sebagai tanaman hias maupun
pengendali lingkungan hidup dari bahaya gas-gas beracun, di samping menyediakan
oksigen untuk udara pernapasan melalui kegiatan fotosintesis.